Minggu, 20 Januari 2008

Persamaan Gender Dalam Perspektif Islam

Secara umum gender bisa dimaknai sebagai perbedaan yang bersifat social-budaya yang dialamatkan akibat perbedaan jenis kelamin. Secara biologis, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan essensial yang tidak mungkin berubah. Bahwa laki-laki memiliki dzakar dan penis, sementara perempuan memiliki payudara, bisa hamil dan melahirkan, serta memiliki vagina. Tetapi laki-laki kemudian harus jantan, keras, dan perempuan harus lemah lembut serta kiprahnya harus di rumah saja, tentu bukan perbedaan yang essensial. Gaya hidup, olah tubuh, dan keseharian laki-laki dan perempuan lebih disebabkan oleh interaksi mereka dengan lingkungan social dan apresiasi mereka terhadap nilai-nilai budaya yang di sepakati bersama.

Setelah lebih dari delapan puluh tahun kekhalifahan islam, keadilan dan kesetaraan gender menjadi simbol perjuangan yang ingin diraih perempuan di berbagai belahan dunia manapun. Mayoritas Negara berkembang serempak berusaha mengimplementasikannya dalam kebijakan-kebijakan dalam negrinya. Keadilan serta kesetaraan gender merupakan sebuah perasa yang lekat dengan bahasa perjuangan para aktifis perempuan, kaum intelektual hingga para birokrat.

Sebagai din yang menyeluruh dan puma, islam memiliki pandangan yang khas dan berbeda secara diametral dengan pandangan demokrasi dalam melihat dan menyelesaikan masalah perempuan. Termasuk di dalam memandang bagaimana hakikat politik dna kiprah politik perempuan di dalam masyarakat. Hal ini terkait dengan bagaimana pandangan mendasar islam tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana diketahui, islam memandang bahwa perempuan hakikatnya sama dengan laki-laki, yakni sama-sama sebagai manusia, hamba Allah yang memiliki potensi dasar berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, islam memandang bahwa keberadaan perempuan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan laki-laki. Keduanya diciptakan untuk mengemban tanggung jawab yang sama dalam mengatur dan memelihara kehidupan ini sesuai dengan kehendak Allah swt sebagai pencipta dan pengatur makhluNya (QS. 9:71, 51:56).

Pada tataran praktis, islam telah memberi aturan yang rinci berkenaan dengan peran dan fungsi masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Hanya saja ada perbedaan dan persamaan pada pembagian peran dan fungsi masing-masing ini tidak bisa di pandang sebagai adanya kesetaraan atau ketidaksetaraan gender. Pembagian tersebut semata-mata merupakan pembagian tugas yang dipandnag sama-sama pentingnya di dalam upaya mewujudkan tertinggi kehidupan masyarakat, yakni tercapainya kebahagiaan yang hakiki di bawah keridhoan Allah semata.

Pada beberapa agama di luar islam kaum perempuan harus berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Dalam banyak kasus, perjuangan mereka masih berlangsung hingga saat ini. Perempuan nasrani, misalnya, harus berjuang keras agar pendapat mereka di dengar dna lebih lanjut perjuangan ini menyebabkan perubahan yang ekstrim sehingga tidak terkesan sexist dan lebih diterima kaum perempuan. Di lain pihak, islam telah memberikan hak-hak kaum perempuan secara adil, kaum perempuan tidak perlu meminta, apalagi menuntut atau memperjuangkannya seperti dalam ayat ini disebutkan sejumlah sifat yang dianggap baik oleh islam.

Artinya: “sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (TQS. Al-Ahzab [33] 35)”.

Pesan utama yang hendak disampaikan ayat di atas adalah bahwa sifat-sifat baik itu dapat dimiliki kedua belah pihak, baik kaum laki-laki dan perempuan. Sebagai manusia, kedua pihak mempunyai hak dan kewajiban yang sama, pahala dan kebaikan di hari akhir pun di sediakan bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan. Setiap individu akan dihisab berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Jenis kelamin sama sekali tidak di pertimbangkan dalam masalah ini.

Pada dasarnya bahwa gender dalam perspektif islam menganggap bahwa kaum perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki, yaitu sebagai hamba Allah. Oleh sebab itu, semestinya tidak ada seorangpun diantara manusia yang tertipu dengan berbagai prasangka dan propaganda kalangan media massa barat yang merasa takut dengan islam.

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan baik dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya mereka pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. An-Nahl [16]: 97).

Kita bisa menarik kesimpulan telah sangat jelas bahwa islam menganggap kaum perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki.

REFERENSI

Hizbut Tahrir Indonesia, Kiprah politik Perempuan,

Achmad Djunaidi dan thobieb Al- Asyhar, Khadijah Sosok Perempuan Karier Sukses.

Al- Wa’ie, Isu Gender Perlu di waspadai.

Ismail Adam Patel, Perempuan Feminisme dan islam.

Selasa, 13 November 2007

tugas resensi buku

Resensi Buku : Di dalam buku yang berjudul “Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah” karangan Prof. Djudju Sudjana, M.Ed., Ph.D., membahas tentang Konsep Evaluasi Program, Tujuan Evaluasi Program, Model-model Evaluasi Program, Unsur-unsur Program yang dievaluasi, Metode-metode Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah, Data dan Teknik-teknik Evaluasi Program, Pengolahan Data dalam Evaluasi Program, Pengolahan Evaluasi Program, Isu, Nilai, dan Tanggung jawab Etik dalam Evaluasi Program dan Petunjuk Teknik Penyusunan Laporan Evaluasi Program.

Kelebihan : Di dalam buku ini secara penulisan, materi yang dipaparkan sangat sistematis dan jelas, maka pembaca akan lebih mudah memahami isi buku tersebut.

Kelemahan : Buku ini secara cover kurang menarik pembaca karena warna yang ditampilkan yaitu biru tua bagi pembaca warna tersebut kurang membuat pembaca merasa penasaran, dan gambar yang ditampilkan tidak mendeskripsikan judul buku tersebut.

Selasa, 06 November 2007

Tugas syarat dan macam-macam evaluator

Persyaratan Evaluator

1. Memahami Materi, yaitu memahami tentang seluk beluk program yang di evaluasi, antara lain :

a. Tujuan program yang sudah ditentukan sebelum mulai kegiatan.

b. Komponen-komponen program.

c. Variable yang diuji cobakan atau dilaksanakan.

d. Jangka waktu dan penjadwalan kegiatan.

e. Mekanisme pelaksanaan program.

f. Pelaksana program.

g. Sistem monitoring kegiatan program.

2. Menguasai teknik, yaitu menguasai cara-cara atau teknik yang digunakan didalam melaksanakan evaluasi program. Oleh karena evaluasi program tidak lain adalah penelitian evaluasi, maka evaluator program harus menguasi metodologi penelitian, meluputi

a. Cara membuat perencanaan penelitian.

b. Teknik menentukan populasi dan sample.

c. Teknik menyusun insrtumen penelitian.

d. Prosedur dan teknik pengumpulan data.

e. Penguasaan teknik pengolahan data.

f. Cara menyusun laporan penelitian.

3. Objektif dan cermat. Tim evaluator adalah sekelompok orang yang mengemban tugas penting yang dalam tugasnya ditipang oleh data yang dikumpulkan secara cermat dan objektif.. Berdasarka atas data tersebut mereka diharapkan, mengklasifikasikan, mentabulasikan, mengolah dan sebagainya secara cermat dan objektif pula. Khusunya di dalam menentukan pengambilan strategi penyusunan laporan, evaluator tidak boleh memandang satu atau dua aspek sebagai hal yang istimewa, dan tidak boleh memihak.

4. Jujur dan dapat dipercaya. Tim evaluasi merupakan tim kepada siapa mengambial keputusan menumpahkan seluruh kepercayaannya kepadanya. Mengapa pengambil keputusan minta tolong untuk mengevaluasi program yang dipandang penting untuk dievaluasi, alasannya ada dua hal: a.) Mereka menghindari adanya bias (kesalahan pengamatan atau kesalahan persepsi) dan b.) dalam mempertanggung jawabkan tindakannya kepada masyarakat luas, tidak akan ada rasa risih karena adanya kemungkinan tidak jujur.

Sehubungan dengan persyaratan evaluator ini,Ronald G. Schnee (1977) menyimpulkan dari data yang diperoleh dari 45 orang peneliti dan evaluator adanya 11 hal yang harus diperhatikan:

a. Evaluator hendaknya merupakan otonom.

b. Ada hubungan baik dengan responden dalam arti dapat memahami sedalam-dalamnya watak kebiasaan dan cara hidup klien yang akan dijadikan sumber data evaluasi.

c. Tanggap akan masalah politik dan social karena tujuan evaluasi adalah pengembangan program.

d. Evaluator berkualitas tinggi, dalam arti jauh dari biasa.

e. Menguasai teknik untuk memilih desain dan metodologi penelitian yang cepat untuk program yang dievaluasi.

f. Bersifat terbuka terhadap kritik.

g. Menyadari kekurangan dan keterbatasannya serta bersikap jujur, menyampaikan kelemahan dan keterbatasan tentang evaluasi yang dilakukan.

h. Bersifat pasrah kepada umum mengenai penemuan pisitif dan negative.

i. Bersedia menyebarkan hasil evaluasi.

j. Berlawanan dengan nomor sembilan menurut Ronald G. Schnee, hasil penelitian yang tidak secara eksplisit denyatakan sebagai informasi terbuka, sebaiknya tidak disebarluaskan (merupakan sesuatu yang kontidensial).

k. Tidak mudah membuat kontrak. Evaluasi yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah disebutkan sebaiknya tidak dengan mudah menyanggupi menerima tugas karena secara etis dan moral akan merupakan sesuatu yang kurang dapat dibenarkan.

Macam-macam evaluator:

1. Evaluator intern, adalah sebuah tim yang ditunjuk oleh suatu organisasi yang melaksanakan program, terdiri orang-orang yang menjadi anggota organisasi program tersebut.

2. Evaluator ekstern, adalah sebuah tim yang diminta (biasanya oleh pengambil keputusan) untuk melaksanakan penilaian terhadap efektifitas program agar hasilnya dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan di dalam menentukan tindak lanjut terhadap kelangsungan atau terhentikannya program tersebut.

Selasa, 30 Oktober 2007

tugas konsorsium stanford

Published May 3rd, 2007

StreamIt: Bahasa Pemrograman baru yang mudah untuk mesin multicore

Dengan perkembangan teknologi mikroprosessor, kita jumpai sekarang terdapat PC, Laptop maupun Gagdet memiliki prosessor lebih dari 1 atau istilahnya multicore, ada yang dual-core atau quad-core. Pada saat ini mesin dengan multicore tersebut lebih banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi yang memang memerlukan banyak proses komputasi, seperti video processing dan gaming. Namun, pada dasarnya mesin multicore ini merupakan superkomputer skals-kecil. Agar kita dapat memanfaatkan keuntungan dari kekuatan komputasinya, software atau program harus dikoding bagi mesin tersebut harus berbasis algoritma paralel (pemrograman paralel). Dan para pakar yakin, apabila pemrograman paralel tidak dapat dibuat lebih mudah, progress komputasi akan menjadi tersendat-sendat dan bahkan terhenti.

Peneliti dari MIT memperhatikan hal ini. Dan mereka telah berhasil mendesain sebuah bahasa pemograman dan compiler yang memberikan kemudahan dalam pemrograman paralel, khususnya bagi mesin-mesin mutlicore. Bahasa Pemrograman dan Compiler disebut StreamIt , dikembangkan oleh Saman Amarasinghe, professor teknik elektro dan ilmu komputer MIT.

StreamIt saat ini berjalan pada mesin multicore khusus yang dikembangkan di MIT. Pada musim panas tahun ini diharapkan dapat berjalan pada chip-komersial dari IBM, Sony, dan Toshiba.

Pada mesin single core, kode software (tasks)akan berjalan sekuensial; pada mesin multicore task-task akan dipecah diantara core-core. Jika task yang berbeda perlu mengakses ‘chunk’ memori yang sama, task tersebut harus bekerja bersama-sama untuk mensinkronisasi akses-akses.

Debugging sekuesial program adalah mudah. Pada sistem paralel proses debug cukup kompleks dan sulit, karena sifat-nya menjadi probabilistik. Setiap kali program berjalan, multicore mengeksekusi tugasnya secara independent, memungkinkan terjadinya jutaan orde eksekusi yang mungkin bagi program.

Data flow, menurut Amaransinghe, merupakan solusinya. Pada data flow, data di stream secara sekuensial melalui sebuah ’sort’ pipeline fungsi-fungsi. Ketika data mengalir compiler akan melihat fungsi mana yang independen. Dengan demikian, compiler dapat memisahkan task-task pada core yang berbeda, tanpa khawatir bahwa task-task akan berinterferensi satu sama lain atau menempati ruang memori yang sama.

Programmer hanya perlu menulis program yang beroperasi secara sekuensial. Compiler yang akan melihat seluruh interaksi-interaksi yang perlu dilakukan, berdasarkan kode yang ditulis programmer, dan mengalokasikan instruksi-instruksi yang tepat.

konsorsium pendidikan di stanford

  1. Universitas On-line "U21 Global" Tengah Bersiap Menguasai AsiaRabu, 23-01-2002

Universitas on-line model universitas terbuka yang didukung oleh 15 universitas terkenal di AS, Canada, Eropa, Australia, dan beberapa universitas terkemuka di Asia tengah dipersiapkan guna hadir tepat pada kwartal pertama tahun 2003. Dengam mengambil nama "U21 Global" atau Universitas 21 Global maka model pengajaran e-Learning yang berorientasi pada penyediaan pendidikan bergelar sarjana dan pasca-sarjana untuk bidang bisnis dan teknologi informasi ini akan beroperasi didukung oleh akreditasi 15 universitas yang tergabung dalam kemitraan "Universitas 21" yang bermitra dengan institusi swasta Thomas Learning.

Thomas Learning adalah perusahaan publik berskala global dalam bidang penyedia jasa solusi pendidikan dan training yang basis bisnisnya berpusat di Canada dan London - Inggris. Pada tahun 2000 pendapatan bisnis perusahaan mencapai nilai $ 6 milyar. Sedangkan Universitas 21 adalah jaringan kerja sama pendidikan, akreditasi dan riset diantara sekelompok Universitas yang mengandalkan riset iptek yang intensif, yang terdiri atas 18 Universitas di kawasan Amerika Utara/Canada, Eropa, dan Asia-Pasifik.

Konsorsium kerja sama Universitas "U21 Global" mulai digulirkan dengan modal awal kerja sama senilai AS $ 50 juta. Kantor administrasi pengelola kampus akan berpusat di Singapore, demikian pula halnya dengan segala paket materi perkuliahan akan dipersiapkan dan dipancarkan lewat Internet dari Singapore. Dalam tahap awal operasionalnya "U21 Global" akan membidik pasar di kawasan Asia, khususnya ASEAN dan Asia Timur. President & CEO Thomson Learning yang juga duduk sebagai manajemen puncak "U21 Global" Bob Cullen memprediksikan akan terdapat pasar potensial pendidikan model e-Learning lewat Internet bagi sejumlah 32 juta mahasiswa di seluruh penjuru dunia akan setara dengan permintaan bernilai komersial sebesar AS $ 100 milyar lebih.

Pasar Asia khususnya untuk calon mahasiswa dari Singapore, Malaysia, dan Hong Kong, dianggap sebagai pasar pertama yang paling potensial dan dikenal sebagai pengguna jasa yang "brand concious"-nya tinggi dan sangat menghargai akan arti mutu materi kuliah yang berasal dari universitas terkemuka yang bergabung dalam konsorsium Universitas "U21 Global". Bahasa pengantar kuliah adalah Bahasa Inggris.

15 Universitas yang telah aktif bergabung dalam "U21 Global" yakni ;

University of Virginia, University of Michigan, McGill University, University of British Columbia ( AS & Canada ) ;
University of Melbourne, University of New South Wales, University of Queensland, University of Auckland ( Australia & Selandia Baru ).
National University of Singapore ( NUS ), University of Hong Kong, Fudan University dan Peking University ( China ).

Beberapa universitas dari negara-negara di Europe.

Di AS komersialisasi jasa pendidikan e-Learning telah berjalan sejak menjelang tahun 2000 ; baik yang dijalankan oleh Universitas maupun ditawarkan oleh Institusi swasta penyedia jasa Pendidikan & Training. Persaingan di tengah pasar AS senilai $1.1 milyar sesuai penelitian Goldman Sachs sampai tahun 2002 berjalan sangat kompetitif. Terlebih ketika pada Nov 2000 Universitas terpandang seperti Harvard dan Stanford yang bekerja sama menyiapkan program unggulan keduanya dalam bidang Manajemen Bisnis dilaksanakan on-line di Internet. Program kedua Universitas memang difokuskan terutama bagi sosok eksekutif yang memerlukan penajaman lanjutan dalam keahlian bidang Manajemen.

Ketua Jurusan Harvard Business School telah menggariskan visi Harvard & Stanford guna menjadi nara sumber terdepan dalam bidang pendidikan manajemen secara on-line dizaman global ini adalah : "to educate leaders around the world,"
( 23-01-02 SI-IPTEKnet merangkum dari berbagai sumber ) .
Sumber: IPTEKnet / Rizal

Selasa, 02 Oktober 2007

macam-macam validitas

Selasa, 2007 Oktober 02

task 4 macam-macam validitas

Istilah validitas ternyata memiliki keragaman kategori. Ebel (dalam Nazir 1988) membagi validitas menjadi:

1. Concurrent Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan kinerja.

2. Construct Validity adalah validitas yang berkenaan dengan kualitas aspek psikologis apa yang diukur oleh suatu pengukuran serta terdapat evaluasi bahwa suatu konstruk tertentu dapat dapat menyebabkan kinerja yang baik dalam pengukuran.

3. Face Validity adalah validitas yang berhubungan apa yang nampak dalam mengukur sesuatu dan bukan terhadap apa yang seharusnya hendak diukur.

4. Factorial Validity dari sebuah alat ukur adalah korelasi antara alat ukur dengan faktor-faktor yang yang bersamaan dalam suatu kelompok atau ukuran-ukuran perilaku lainnya, dimana validitas ini diperoleh dengan menggunakan teknik analisis faktor.

5. Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran.

6. Intrinsic Validity adalah validitas yang berkenaan dengan penggunaan teknik uji coba untuk memperoleh bukti kuantitatif dan objektif untuk mendukung bahwa suatu alat ukur benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.

7. Predictive Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor suatu alat ukur dengan kinerja seseorang di masa mendatang.

8. Content Validity adalah validitas yang berkenaan dengan baik buruknya sampling dari suatu populasi.

9. Curricular Validity adalah validitas yang ditentukan dengan cara menilik isi dari pengukuran dan menilai seberapa jauh pengukuran tersebut merupakan alat ukur yang benar-benar mengukur aspek-aspek sesuai dengan tujuan instruksional.

Sementara itu, Kerlinger (1990) membagi validitas menjadi tiga yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstruk), dan criterion-related validity (validitas berdasar kriteria).

Tipe-tipe umum pengukuran validitas

1) Validitas isi

Validitas isi merupakan validitas yang diperhitumgkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah "sejauhmana item-item dalam suatu alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh alat ukur yang bersangkutan?" atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan kawasan.

Pengertian "mencakup keseluruhan kawasan isi" tidak saja menunjukkan bahwa alat ukur tersebut harus komprehensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur.

Walaupun isi atau kandungannya komprehensif tetapi bila suatu alat ukur mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas alat ukur tersebut tidak dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya.

Apakah validitas isi sebagaimana dimaksudkan itu telah dicapai oleh alat ukur, sebanyak tergantung pada penilaian subjektif individu. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan komputasi statistik, melainkan hanya dengan analisis rasional maka tidak diharapkan bahwa setiap orang akan sependapat dan sepaham dengan sejauhmana validitas isi suatu alat ukur telah tercapai.

Selanjutnya, validitas isi ini terbagi lagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis).

Face Validity (Validitas Muka). Validitas muka adalah tipe validitas yang paling rendah signifikasinya karena hanya didasarkan pada penilaian selintas mengenai isi alat ukur. Apabila isi alat ukur telah tampak sesuai dengan apa yang ingin diukur maka dapat dikatakan validitas muka telah terpenuhi.

Dengan alasan kepraktisan, banyak alat ukur yang pemakaiannya terbatas hanya mengandalkan validitas muka. Alat ukur atau instrumen psikologi pada umumnya tidak dapat menggantungkan kualitasnya hanya pada validitas muka. Pada alat ukur psikologis yang fungsi pengukurannya memiliki sifat menentukan, seperti alat ukur untuk seleksi karyawan atau alat ukur pengungkap kepribadian (asesmen), dituntut untuk dapat membuktikan validitasnya yang kuat.

Logical Validity (Validitas Logis). Validitas logis disebut juga sebagai validitas sampling (sampling validity). Validitas tipe ini menunjuk pada sejauhmana isi alat ukur merupakan representasi dari aspek yang hendak diukur.

Untuk memperoleh validitas logis yang tinggi suatu alat ukur harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya item yang relevan dan perlu menjadi bagian alat ukur secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang hendak diungkap oleh alat ukur hendaknya harus dibatasi lebih dahulu kawasan perilakunya secara seksama dan konkrit. Batasan perilaku yang kurang jelas akan menyebabkan terikatnya item-item yang tidak relevan dan tertinggalnya bagian penting dari objek ukur yang seharusnya masuk sebagai bagian dari alat ukur yang bersangkuatan.

Validitas logis memang sangat penting peranannya dalam penyusunan tes prestasi dan penyusunan skala, yaitu dengan memanfaatkan blue-print atau tabel spesifikasi.

2) Validitas Konstruk

Validitas konstruk adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana alat ukur mengungkap suatu trait atau konstruk teoritis yang hendak diukurnya (Allen & Yen, dalam Azwar 1986).

Pengujian validitas konstruk merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur.

Walaupun pengujian validitas konstruk biasanya memerlukan teknik analisis statistik yang lebih kompleks daripada teknik yang dipakai pada pengujian validitas empiris lainnya, akan tetapi validitas konstruk tidaklah dinyatakan dalam bentuk koefisien validitas tunggal.

Konsep validitas konstruk sangatlah berguna pada alat ukur yang mengukur trait yang tidak memiliki kriteria eksternal.

3) Validitas Berdasar Kriteria

Pendekatan validitas berdasar kriteria menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor alat ukur. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor alat ukur.

Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor alat ukur dengan skor kriteria. Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi alat ukur yang bersangkutan, yaitu rxy, dimana x melambangkan skor alat ukur dan y melambangkan skor kriteria.

ilihat dari segi waktu untuk memperoleh skor kriterianya, prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas yaitu validitas prediktif (predictive validity) dan validitas konkuren (concurrent validity).

Validitas Prediktif. Validitas prediktif sangat penting artinya bila alat ukur dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi kinerja di masa yang akan datang. Contoh situasi yang menghendaki adanya prediksi kinerja ini antara lain adalah dalam bimbingan karir; seleksi mahasiswa baru, penempatan karyawan, dan semacamnya.

Contohnya adalah sewaktu kita melakukan pengujian validitas alat ukur kemampuan yang digunakan dalam penempatan karyawan. Kriteria yang terbaik antara lain adalah kinerjanya setelah ia betul-betul ditempatkan sebagai karyawan dan melaksanakan tugasnya selama beberapa waktu. Skor kinerja karyawan tersebut dapat diperoleh dari berbagai cara, misalnya menggunakan indeks produktivitas atau rating yang dilakukan oleh atasannya.

Koefisien korelasi antara skor alat ukur dan kriteria merupakan petunjuk mengenai saling hubungan antara skor alat ukur dengan skor kriteria dan merupakan koefisien validitas prediktif. Apabila koefisien ini diperoleh dari sekelompok individu yang merupakan sampel yang representatif, maka alat ukur yang telah teruji validitasnya akan mempunyai fungsi prediksi yang sangat berguna dalam prosedur alat ukur di masa datang.

Prosedur validasi prediktif pada umumnya memerlukan waktu yang lama dan mungkin pula biaya yang tidak sedikit dikarenakan prosedur ini pada dasarnya bukan pekerjaan yang dianggap selesai setelah melakukan sekali tembak, melainkan lebih merupakan kontinuitas dalam proses pengembangan alat ukur. Sebagaimana prosedur validasi yang lain, validasi prediktif pada setiap tahapnya haruslah diikuti oleh usaha peningkatan kualitas item alat ukur dalam bentuk revisi, modifikasi, dan penyusunan item-item baru agar prosedur yang dilakukan itu mempunyai arti yang lebih besar dan bukan sekedar pengujian secara deskriptif saja.

Validitas Konkuren. Apabila skor alat ukur dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkuren.

Suatu contoh dimana validitas konkuren layak diuji adalah apabila kita menyusun suatu skala kecemasan yang baru. Untuk menguji validitas skala tersebut kita dapat mengunakan skala kecemasan lain yang telah lebih dahulu teruji validitasnya, yaitu dengan alat ukur TMAS (Tylor Manifest Anxiety Scale).

Validitas konkuren merupakan indikasi validitas yang memadai apabila alat ukur tidak digunakan sebagai suatu prediktor dan merupakan validitas yang sangat penting dalam situasi diagnostik. Bila alat ukur dimaksudkan sebagai prediktor maka validitas konkuren tidak cukup memuaskan dan validitas prediktif merupakan keharusan.